Sabtu, 20 Februari 2016

Rahul Mishra; Embroidery Dalam Busana Modern


Rahul Mishra merupakan desainer pertama asal India yang mendapatkan beasiswa di Instituto Marangoni Milan, Italy. Lulusan dari National Institute of Design Ahmedabad ini memulai karir nya pada tahun 2006 dalam Lakme Fashion Week, ia meluncurkan koleksi pertamanya menggunakan bahan tenun dari Kerala, India. Penggunaan material khas India inilah yang membawa Rahul memiliki kesempatan untuk memamerkan koleksinya di beberapa acara fashion week dunia, sebut saja London, Dubai, dan Australia.

Pada tahun 2013 Rahul berhasil memenangkan kompetisi desain International Woolmark Prize di India, sekaligus menjadi perwakilan dari Asia pada ajang serupa untuk kelas dunia. Dalam ajang tersebut Rahul berhasil menjadi finalis bersama dengan Christopher Esber dari Australia, Sibling dari Eropa dan Joseph Altuzarra dari Amerika. Rahul Mishra menampilkan koleksi yang terinspirasi dari bunga lotus dan gambar monokromatik karya seniman Maurits Cornelis Escher, hasilnya ialah sebuah capsule collection yang ia beri judul The Lotus Effect. Pada tahun 2014, koleksi ini berhasil membuat Rahul Mishra menjadi pemenang pada ajang yang juga pernah mencetak desainer - desainer dunia, seperti Karl Lagerfeld dan Giorgio Armani.

Pihak Jakarta Fashion Week 2016 berkerja sama dengan Melbourne Fashion Festival, dan The Woolmark Company menampilkan koleksi Rahul Mishra sebagai tokoh inspiratif, dalam kesempatan ini juga Rahul tidak hanya menampilkan capsule collection nya saja, melainkan juga koleksi ready to wear F/W 2015 nya.






























Dari koleksi ini terlihat sekali kekuatan desain Rahul Mishra terletak dalam permainan embroidery baik 2 dimensi maupun 3 dimensi, Rahul berhasil menggabungkan ke-2 embroidery tersebut menjadi kesatuan busana yang modern. Tehnik embroidery ini ia kombinasikan dengan penggunaan bahan sheer yang menjadi tren belakangan ini, komposisi detail yang pas serta siluet busana yang simple membuat busana ini terasa ringan, dan berjiwa muda.

Bayu Raditya Pratama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar